of 15

Geographic Information System

Published on January 2019 | Categories: Documents | Downloads: 3 | Comments: 0
275 views

Comments

Content

BAB I Apakah itu GIS ? Geographic Information System (GIS) adalah suatu teknik berbasis komputer yang dapat mengumpulkan, mengumpulkan, menyimpan, menampilkan, mengolah dan mengelola berbagai data spasial dari fenomena geografis agar dapat dianalisa dan digunakan dalam penentuan berbagai kebijakan para pengguna. Analisa dan aplikasi GIS digunakan untuk mendukung berbagai aktifitas manusia yang erat kaitannya dengan fenomena geografis terutama dalam analisis keruangan (Spatial Analyst). Jadi gampangnya GIS itu sebuah sistem yg digunakan orang yg mempunyai data spatial tetapi tidak mengerti apa yg bisa dihasilkan dari data itu. Data spasial yaitu data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference). Pengolahan data dalam GIS merupakan pengolahan dan pengelolaan informasi geografis berbentuk digital, maka input utama untuk GIS haruslah data spasial yang menunjukan posisi, ukuran, dan kemungkinan hubungan topologis dari obyek di permukaan bumi, Data atau informasi spasial itu merupakan hasil penafsiran data yang dituangkan dalam bentuk simbol sebagai gambaran dari keadaan yang sebenarnya. Data atau informasi keruangan dapat disampaikan dalam bentuk tabel maupun peta. Informasi yang disampaikan dalam bentuk tabel tersebut disebut sebagai data atribut atau tabular, namun bila data ditampilkan dalam bentuk  peta maka disebut sebagai data spasial.

GIS untuk pertanian berkelanjutan Pertanian berkelanjutan bukanlah pilihan tapi merupakan keharusan yang perlu dilakukan jika kita ingin terus dapat melakukan pembangunan. Kita telah menyaksikan pertambahan penduduk dunia yang terus meningkat begitu besarnya seperti yang terjadi di Indonesia dan menyebabkan penurunan kualitas sumber daya alam serta kerusakan lingkungan yang sangat cepat. Konsep sistem pertanian yang berkelanjutan muncul setelah terbukti pertanian sebagai suatu sistem produksi ternyata juga merupakan sebagai penghasil polusi. Pertanian bukan hanya penyebab degradasi lahan tetapi juga penyebab degradasi lingkungan diluar daerah pertanian. Meluasnya lahan-lahan kritis dan pendangkalan perairan di daerah hilir merupakan bukti nyata bahwa pertanian yang tidak dikelola dan direncanakan secara berkelanjutan telah menurunkan kualitas sumber daya alam. Implementasi Sistem Informasi geografi (SIG) sebagai salah satu teknologi yang mampu merancang suatu perencanaan pengelolan lingkungan dengan cepat diharapkan mampu menaggulangi kendala tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan diantaranya adalah (1) perlu upaya mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang tidak terbaharui dan sumber

daya kimia, (2) perlu mengurangi kontaminasi bahan pencemar akibat efek samping dari kegiatan pertanian pada udara, air dan lahan, (3) mempertahankan habitat untuk kehidupan fauna yang memadai, dan (4) dapat mempertahankan sumber daya genetik untuk tanaman dan hewan yang diperlukan dalam pertanian. Selain itu pertanian harus mampu mempertahankan produksinya sepanjang waktu dalam menghadapai tekanan sosial ekonomi tanpa merusak lingkungan yang berarti. Hasil panen secara fisik merupakan ukuran keberhasilan kelestarian produksi pertanian. Dengan alasan pertumbuhan dan hasil tanaman sangat tergantung dari banyak faktor termasuk tanah, iklim, hama dan penyakit. Tetapi pengukuran kelestarian semacam ini memerlukan ketersediaan data yang baik dalam kurun waktu yang lama, sehingga kecenderungan hasil yang terukur dalam jangka panjang harus dipisahkan dari data akibat variasi iklim dan pengolahan yang kurang baik. Dengan demikian, akan lebih baik apabila kita mempunyai indikator tanah dan peramalan yang dapat digunakan lebih awal dalam memberikan peringatan kemungkinan terjadinya penurunan hasil, karena banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah yang terjadi secara sangat lambat. SIG dengan kemampunnya sebagai penyimpan data yang baik serta mampu memanejemen data walaupun  jumlah data itu begitu besar, akan sangup menerima tantangan tersebut. Selain dapat memajemen data dari berbagai bentuk, pengintergrasian antara data spasial dan data atribut dalam suatu a nalisis akan dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi suatu daerah (spasialnya) serta informasi (data atribut) dari daerah tersebut dalam waktu bersamaan. Pemisahan data dari keadan normal dengan akibat variasi iklim atau akibat pengolahan yang kurang baik  dapat dilakukan dengan cepat dan mudah dengan bantuan fungsi klasifikasi dan generalisasi dalam SIG. Proses peramalan dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan data-data yang telah ada. Pendugan dengan beberapa asumsi tersebut akan langsung memperlihatkan hasil dalam bentuk suatu peta sehingga dapat menghasilkan kemungkinan-kemungkinan terbaik dalam pengambilan keputusan suatu perncanaan serta dengan didukung oleh alternatif-alternatif lain. Penggunaan data dari citra satelit akan sangat mempengaruhi kecepatan perencanaan dimana dari data ini kita akan secara cepat mengetahui perubahanperubahan yang terjadi pada suatu lahan.

BAB II 1. Pemantauan produksi Saat ini, negara-negara berkembang telah mulai memanfaatkan teknologi GPS dalam bidang produksi pertanian. Disebut dengan "pertanian presisi." Dengan metode ini, penggunaan GPS untuk memperoleh informasi pemosisian lahan pertanian, termasuk memantau hasil panen, mengumpulkan sampel tanah, dan sebagainya. Sistem komputer menganalisis, memroses data, dan membuat keputusan melalui pendekatan manajemen untuk lahan pertanian. Informasi status hasil panen dan tanah diintegrasikan ke dalam alat GPS yang dipasang pada alat penyiram, yang akan digunakan untuk melakukan pemupukan presisi dan penyemprotan pestisida. Melalui penerapan pertanian presisi, biaya produksi pertanian dapat berkurang, limbah material dapat dihindarkan, dan polusi lingkungan karena pupuk dan insektisida menjadi minim.

1. Penilaian resiko -

Dukungan manajemen

Proyek GIS biasanya dilakukan oleh sebuah instansi atau organisasi. Dukungan dari pimpinan organisasi akan mempengaruhi kalancaran implemntasi SIG dimana tanpa dukungan penuh dari pimpinan akan menyebabkan kecendrungan kegagalan dari implementasi SIG. -

Keadaan data

Pada awalnya bagian pekerjaan terbesar dari SIG adalah mengkonversi data dari analog ke data digital. Pekerjaan ini membutuhkan biya yang tidak sedikit sehingga pertimbangan tentang datadata apa saja yang perlu dikonversikan merupakan hal sangat penting. -

Tenaga kerja (user)

Masalah yang sering dihadapi dalam pengimplementasian SIG adalah kurangnya tenaga kerja yang menjalankan SIG tersebut. Kurangnya tenaga kerja tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dari tenaga kerja tentang SIG. Oleh karena itu pendidikan terhadap tenaga kerja sangat diperlukan dalam hal ini.

-

Biaya

Biaya merupakan faktor penentu dalam pengimplentasian SIG. implementasi SIG membutukan biaya yang sangat besar, khususnya pada pada awal pembentukkannya seperti biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak, biaya pengkonversian data dan lain sebagainya. 2. Pengendalian hama dan penyakit Informasi status hasil panen dan tanah diintegrasikan ke dalam alat GPS yang dipasang pada alat penyiram, yang akan digunakan untuk melakukan pemupukan presisi dan penyemprotan pestisida. Melalui penerapan pertanian presisi, biaya produksi pertanian dapat berkurang, limbah material dapat dihindarkan, dan polusi lingkungan karena pupuk dan insektisida menjadi minim.

3. Pemantauan budidaya pertanian pembangunan pertanian dengan teknologi yang digunakan. Salah satu metode untuk  mengumpulkan dan menganalisis data di lahan pertanian melibatkan menggunakan foto udara inframerah, dan gambar dapat dievaluasi untuk menentukan situasi hara. Perkembangan di bidang pertanian presisi telah datang dari teknologi yang dikembangkan oleh NASA, termasuk satelit Landstat dan Sensor Aplikasi Advanced Thermal dan Lahan (ATLAS). Teknologi ini dapat memungkinkan petani untuk menentukan tarif khusus untuk aplikasi pupuk, irigasi penjadwalan, aplikasi pestisida, dan banyak lagi.

4. Presisi pertanian Berbagai aplikasi yang tersedia untuk pertanian petani menggunakan pertanian presisi. Di sini dijelaskan bagaimana teknologi ini menggabungkan GIS, GPS, penginderaan jauh, variabeltingkat teknologi, dan menghasilkan monitoring untuk menciptakan model rinci bidang tanaman. Model ini berguna untuk aplikasi seperti variabel-tingkat aplikasi pestisida, penilaian kesehatan tanaman, dan proyeksi hasil. Masing-masing aplikasi, menurut penulis, membantu untuk  mengurangi limbah dan memaksimalkan keuntungan. Presisi teknologi pertanian terus berkembang, dan penulis menjelaskan beberapa inovasi terbaru, termasuk navigasi GPS dan perangkat lunak antarmuka antara peralatan aplikasi dan program GIS.

5. Manajemen sumber daya air mengevaluasi bagaimana GIS dapat diterapkan untuk pengelolaan irigasi di bidang pertanian dengan sistem saluran irigasi. Menggunakan Alat Tanah dan Air Assessment (SWAT) pendekatan untuk mengevaluasi kebutuhan air tanaman spesifik dalam kaitannya dengan kondisi air yang bervariasi di seluruh daerah. Metode ini didasarkan pada model simulasi hidrologi GIS, dan alat ini memiliki kemampuan untuk mensimulasikan praktek pengelolaan lahan berbagai kondisi lingkungan, dan fitur DAS seperti hidrologi, erosi, dan suhu tanah. Sebuah fitur penting dari alat ini adalah bahwa hal itu mampu menghitung evapotranspirasi untuk jenis tanaman tertentu dan tahapan, dan dengan demikian menentukan kebutuhan mereka dengan tepat air. Alat ini memiliki kapasitas untuk menghitung berapa banyak air yang tersedia di zona akar tanaman, seberapa cepat tanaman ini depleting air yang tersedia, dan menentukan penjadwalan irigasi yang tepat untuk tanaman. Alat SWAT akan membantu manajer tanaman untuk memastikan hasil panen mereka memiliki air yang cukup sementara mencegah buang air di mana tidak diperlukan.

6. Kajian biodiversitas bentang lahan untuk kegiatan pertanian berlanjut, dan memberikan analisisnya tentang kemungkinan contoh tersebut diterapkan di salah satu sistem pertanian di Indonesia menuju penerapan pertanian berlanjut Pertanian berkelanjutan bukanlah pilihan tapi merupakan keharusan yang perlu dilakukan jika kita ingin terus dapat melakukan pembangunan. Kita telah menyaksikan pertambahan penduduk  dunia yang terus meningkat begitu besarnya seperti yang terjadi di Indonesia dan menyebabkan penurunan kualitas sumber daya alam serta kerusakan lingkungan yang sangat cepat. Konsep sistem pertanian yang berkelanjutan muncul setelah terbukti pertanian sebagai suatu sistem produksi ternyata juga merupakan sebagai penghasil polusi. Pertanian bukan hanya penyebab degradasi lahan tetapi juga penyebab degradasi lingkungan diluar daerah pertanian. Meluasnya lahan-lahan kritis dan pendangkalan perairan di daerah hilir merupakan bukti nyata bahwa pertanian yang tidak dikelola dan direncanakan secara berkelanjutan telah menurunkan kualitas sumber daya alam. Implementasi Sistem Informasi geografi (SIG) sebagai salah satu teknologi yang mampu merancang suatu perencanaan pengelolan lingkungan dengan cepat diharapkan mampu menaggulangi kendala tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan diantaranya adalah (1) perlu upaya mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang tidak  terbaharui dan sumber daya kimia, (2) perlu mengurangi kontaminasi bahan pencemar akibat efek 

samping dari kegiatan pertanian pada udara, air dan lahan, (3) mempertahankan habitat untuk  kehidupan fauna yang memadai, dan (4) dapat mempertahankan sumber daya genetik untuk  tanaman dan hewan yang diperlukan dalam pertanian. Selain itu pertanian harus mampu mempertahankan produksinya sepanjang waktu dalam menghadapai tekanan sosial ekonomi tanpa merusak lingkungan yang berarti (Sinclair, 1987 dalam Suwardji, 2004) Sutanto (2001) mengatakan bahwa hasil panen secara fisik merupakan ukuran keberhasilan kelestarian produksi pertanian. Dengan alasan pertumbuhan dan hasil tanaman sangat tergantung dari banyak faktor termasuk tanah, iklim, hama dan penyakit. Tetapi pengukuran kelestarian semacam ini memerlukan ketersediaan data yang baik dalam kurun waktu yang lama, sehingga kecenderungan hasil yang terukur dalam jangka panjang harus dipisahkan dari data akibat variasi iklim dan pengolahan yang kurang baik. Dengan demikian, akan lebih baik apabila kita mempunyai indikator tanah dan peramalan yang dapat digunakan lebih awal dalam memberikan peringatan kemungkinan terjadinya penurunan hasil, karena banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah yang terjadi secara sangat lambat. SIG dengan kemampunnya sebagai penyimpan data yang baik serta mampu memanejemen data walaupun jumlah data itu begitu besar, akan sangup menerima tantangan tersebut. Selain dapat memajemen data dari berbagai bentuk, pengintergrasian antara data spasial dan data atribut dalam suatu analisis akan dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi suatu daerah (spasialnya) serta informasi (data atribut) dari daerah tersebut dalam waktu bersamaan. Pemisahan data dari keadan normal dengan akibat variasi iklim atau akibat pengolahan yang kurang baik dapat dilakukan dengan cepat dan mudah dengan bantuan fungsi klasifikasi dan generalisasi dalam SIG. Proses peramalan dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan data-data yang telah ada. Pendugan dengan beberapa asumsi tersebut akan langsung memperlihatkan hasil dalam bentuk suatu peta sehingga dapat menghasilkan kemungkinan-kemungkinan terbaik dalam pengambilan keputusan suatu perncanaan serta dengan didukung oleh alternatif-alternatif lain. Penggunaan data dari citra satelit akan sangat mempengaruhi kecepatan perencanaan dimana dari data ini kita akan secara cepat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu lahan. Ada banyak faktor yang mengaruhi implementasi SIG dalam suatu perkerjaan sehingga sebelum kita mengimplemantasikan SIG untuk menunjang pertanian berkelanjutan, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

-

Dukungan manajemen

Proyek GIS biasanya dilakukan oleh sebuah instansi atau organisasi. Dukungan dari pimpinan organisasi akan mempengaruhi kalancaran implemntasi SIG dimana tanpa dukungan penuh dari pimpinan akan menyebabkan kecendrungan kegagalan dari implementasi SIG. -

Keadaan data

Pada awalnya bagian pekerjaan terbesar dari SIG adalah mengkonversi data dari analog ke data digital. Pekerjaan ini membutuhkan biya yang tidak sedikit sehingga pertimbangan tentang datadata apa saja yang perlu dikonversikan merupakan hal sangat penting. -

Tenaga kerja (user)

Masalah yang sering dihadapi dalam pengimplementasian SIG adalah kurangnya tenaga kerja yang menjalankan SIG tersebut. Kurangnya tenaga kerja tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dari tenaga kerja tentang SIG. Oleh karena itu pendidikan terhadap tenaga kerja sangat diperlukan dalam hal ini. -

Biaya

Biaya merupakan faktor penentu dalam pengimplentasian SIG. implementasi SIG membutukan biaya yang sangat besar, khususnya pada pada awal pembentukkannya seperti biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak, biaya pengkonversian data dan lain sebagainya.

BAB III Memahami distribusi spasial data dari fenomena yang terjadi di ruang angkasa merupakan hari ini tantangan besar untuk penjelasan pertanyaan utama dalam banyak bidang pengetahuan, baik itu di bidang kesehatan, lingkungan, geologi, di agronomi, di antara banyak lainnya. Studi tersebut menjadi lebih dan lebih umum, karena ketersediaan Sistem biaya rendah Informasi Geografis (SIG) dengan user-friendly . Sistem ini memungkinkan visualisasi spasial variabel seperti populasi individu, kualitas hidup atau indeks penjualan perusahaan di daerah dengan menggunakan peta. Untuk mencapai itu sudah cukup untuk  memiliki database dan basis geografis (seperti peta kotamadya), dan GIS yang mampu menyajikan peta berwarna yang memungkinkan visualisasi dari pola spasial fenomena. Selain persepsi visual dari distribusi spasial fenomena, sangat berguna untuk menerjemahkan pola yang ada menjadi obyektif dan terukur pertimbangan, seperti dalam kasus berikut:

• Epidemiologi mengumpulkan data tentang terjadinya penyakit. Apakah distribusi kasus penyakit yang membentuk pola di luar angkasa? Apakah ada hubungan dengan sumber polusi? Apakah ada bukti contagion? Apakah itu bervariasi dengan waktu?

• Kami ingin menyelidiki apakah ada konsentrasi spasial dalam distribusi pencurian. Apakah pencurian yang terjadi di daerah-daerah tertentu yang berkorelasi dengan karakteristik sosio-ekonomi dari daerahdaerah?

• Geolog keinginan untuk mem perkirakan, dari beberapa sampel, perpanjangan dari deposit mineral di suatu daerah. Dapatkah sampel tersebut akan digunakan untuk memperkirakan mineral distribusi di wilayah itu?

• Kami ingin menganalisis suatu daerah untuk tujuan zonasi pertanian. Cara memilih variabel independen tanah, vegetasi atau geomorfologi dan menentukan apa kontribusi dari masing-masing salah satunya adalah untuk mendefinisikan di mana masing-masing jenis tanaman adalah lebih memadai? Semua masalah ini merupakan bagian dari analisis spasial data geografis. Penekanan Analisis Spasial adalah untuk mengukur sifat dan hubungan, memperhitungkan lokalisasi spasial dari fenomena yang diteliti dalam cara langsung. Artinya, ide sentral adalah untuk menggabungkan ruang dalam analisis menjadi dibuat. Buku ini menyajikan satu set alat yang mencoba untuk mengatasi masalah ini. Sekarang dimaksudkan untuk membantu mereka yang tertarik untuk belajar, mengeksplorasi dan proses model yang mengekspresikan diri melalui distribusi dalam ruang, di sini disebut geografis fenomena. Seorang pelopor contoh, di mana kategori ruang yang intuitif dimasukkan dengan analisis yang dilakukan terjadi di abad ke-19 yang dilakukan oleh John Salju. Pada tahun 1854, salah satu yang banyak kolera epidemi sedang berlangsung di London, dibawa dari Hindia. Pada saat itu, tak ada yang tahu banyak tentang penyebab penyakit. Dua sekolah ilmiah mencoba untuk menjelaskannya: satu menghubungkannya dengan

miasmas terkonsentrasi di daerah yang lebih rendah dan rawa kota dan lain ke konsumsi air yang terkontaminasi. Ini adalah salah satu contoh pertama dari analisis spasial di mana hubungan spasial dari data secara signifikan berkontribusi pada kemajuan dalam pemahaman fenomena.

Ada jenis data dalam analisis spasial yg bersinggungan dengan mata kuliah tanah, yaitu :  terus menerus permukaan - diperkirakan dari satu set sampel lapangan yang dapat teratur atau tidak  teratur didistribusikan. Biasanya, jenis ini hasil data dari sumber daya alam survei, yang meliputi geologi, topografi, ekologi, phitogeographic, dan pedological peta.

BAB IV Uraian bagaimana peluang masing-masing contoh tersebut diterapkan di salah satu sistem pertanian di Indonesia menuju penerapan pertanian berlanjut

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan diantaranya adalah (1) perlu upaya mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang tidak  terbaharui dan sumber daya kimia, (2) perlu mengurangi kontaminasi bahan pencemar akibat efek samping dari kegiatan pertanian pada udara, air dan lahan, (3) mempertahankan habitat untuk kehidupan fauna yang memadai, dan (4) dapat mempertahankan sumber daya genetik  untuk tanaman dan hewan yang diperlukan dalam pertanian. Selain itu pertanian harus mampu mempertahankan produksinya sepanjang waktu dalam menghadapai tekanan sosial ekonomi tanpa merusak lingkungan yang berarti (Sinclair, 1987 dalam Suwardji, 2004) Sutanto (2001) mengatakan bahwa hasil panen secara fisik merupakan ukuran keberhasilan kelestarian produksi pertanian. Dengan alasan pertumbuhan dan hasil tanaman sangat tergantung dari banyak faktor termasuk tanah, iklim, hama dan penyakit. Tetapi pengukuran kelestarian semacam ini memerlukan ketersediaan data yang baik dalam kurun waktu yang lama, sehingga kecenderungan hasil yang terukur dalam jangka panjang harus dipisahkan dari data akibat variasi iklim dan pengolahan yang kurang baik. Dengan demikian, akan lebih baik apabila kita mempunyai indikator tanah dan peramalan yang dapat digunakan lebih awal dalam memberikan peringatan kemungkinan terjadinya penurunan hasil, karena banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah yang terjadi secara sangat lambat. SIG dengan kemampunnya sebagai penyimpan data yang baik serta mampu memanejemen data walaupun jumlah data itu begitu besar, akan sangup menerima tantangan tersebut. Selain dapat memajemen data dari berbagai bentuk, pengintergrasian antara data spasial dan data atribut dalam suatu analisis akan dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi suatu daerah (spasialnya) serta informasi (data atribut) dari daerah tersebut dalam waktu bersamaan. Pemisahan data dari keadan normal dengan akibat variasi iklim atau akibat pengolahan yang kurang baik dapat dilakukan dengan cepat dan mudah dengan bantuan fungsi klasifikasi dan generalisasi dalam SIG. Proses peramalan dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan data-data

yang telah ada. Pendugan dengan beberapa asumsi tersebut akan langsung memperlihatkan hasil dalam bentuk suatu peta sehingga dapat menghasilkan kemungkinan-kemungkinan terbaik dalam pengambilan keputusan suatu perncanaan serta dengan didukung oleh alternatif-alternatif lain. Penggunaan data dari citra satelit akan sangat mempengaruhi kecepatan perencanaan dimana dari data ini kita akan secara cepat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu lahan. Ada banyak faktor yang mengaruhi implementasi SIG dalam suatu perkerjaan sehingga sebelum kita mengimplemantasikan SIG untuk menunjang pertanian berkelanjutan, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Dukungan manajemen Proyek GIS biasanya dilakukan oleh sebuah instansi atau organisasi. Dukungan dari pimpinan organisasi akan mempengaruhi kalancaran implemntasi SIG dimana tanpa dukungan penuh dari pimpinan akan menyebabkan kecendrungan kegagalan dari implementasi SIG. 2. Keadaan data Pada awalnya bagian pekerjaan terbesar dari SIG adalah mengkonversi data dari analog ke data digital. Pekerjaan ini membutuhkan biya yang tidak sedikit sehingga pertimbangan tentang data-data apa saja yang perlu dikonversikan merupakan hal sangat penting. 3. Tenaga kerja (user) Masalah yang sering dihadapi dalam pengimplementasian SIG adalah kurangnya tenaga kerja yang menjalankan SIG tersebut. Kurangnya tenaga kerja tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dari tenaga kerja tentang SIG. Oleh karena itu pendidikan terhadap tenaga kerja sangat diperlukan dalam hal ini.

4. Biaya Biaya merupakan faktor penentu dalam pengimplentasian SIG. implementasi SIG membutukan biaya yang sangat besar, khususnya pada pada awal pembentukkannya seperti biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak, biaya pengkonversian data dan lain sebagainya.

BAB V Peutup dan Kesimpulan

SIG dengan kemampunnya sebagai penyimpan data yang baik serta mampu memanejemen data walaupun jumlah data itu begitu besar, akan sangup menerima tantangan tersebut. Selain dapat memajemen data dari berbagai bentuk, pengintergrasian antara data spasial dan data atribut dalam suatu analisis akan dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi suatu daerah (spasialnya) serta informasi (data atribut) dari daerah tersebut dalam waktu bersamaan. Pemisahan data dari keadan normal dengan akibat variasi iklim atau akibat pengolahan yang kurang baik dapat dilakukan dengan cepat dan mudah dengan bantuan fungsi klasifikasi dan generalisasi dalam SIG. Proses peramalan dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan data-data yang telah ada. Pendugan dengan beberapa asumsi tersebut akan langsung memperlihatkan hasil dalam bentuk suatu peta sehingga dapat menghasilkan kemungkinan-kemungkinan terbaik dalam pengambilan keputusan suatu perncanaan serta dengan didukung oleh alternatif-alternatif lain. Penggunaan data dari citra satelit akan sangat mempengaruhi kecepatan perencanaan dimana dari data ini kita akan secara cepat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu lahan. Ada banyak faktor yang mengaruhi implementasi SIG dalam suatu perkerjaan sehingga sebelum kita mengimplemantasikan SIG untuk menunjang pertanian berkelanjutan, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut: -

Dukungan manajemen Proyek GIS biasanya dilakukan oleh sebuah instansi atau organisasi. Dukungan dari pimpinan organisasi akan mempengaruhi kalancaran implemntasi SIG dimana tanpa dukungan penuh dari pimpinan akan menyebabkan kecendrungan kegagalan dari implementasi SIG.

-

Keadaan data Pada awalnya bagian pekerjaan terbesar dari SIG adalah mengkonversi data dari analog ke data digital. Pekerjaan ini membutuhkan biya yang tidak sedikit sehingga pertimbangan tentang data-data apa saja yang perlu dikonversikan merupakan hal sangat penting.

-

Tenaga kerja (user) Masalah yang sering dihadapi dalam pengimplementasian SIG adalah kurangnya tenaga kerja yang menjalankan SIG tersebut. Kurangnya tenaga kerja tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dari tenaga kerja tentang SIG. Oleh karena itu pendidikan terhadap tenaga kerja sangat diperlukan dalam hal ini.

-

Biaya Biaya merupakan faktor penentu dalam pengimplentasian SIG. implementasi SIG membutukan biaya yang sangat besar, khususnya pada pada awal pembentukkannya seperti biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak, biaya pengkonversian data dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Bailey, T. and A. Gattrel (1995). Spatial Data Analysis by Example . London, Longman

Burrough, PA; McDonell, R.; Principles of Geographical Information Systems . Oxford, Oxford University Press, 1998

Cressie, N. (1991) Statistics for Spatial Data . Chichester, John Wiley

Martin, D. (1995). Geographic Information Systems: Socioeconomic Applications. London, Routledge

Sponsor Documents

Or use your account on DocShare.tips

Hide

Forgot your password?

Or register your new account on DocShare.tips

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Back to log-in

Close