of 10

Lp

Published on June 2016 | Categories: Documents | Downloads: 25 | Comments: 0
169 views

LP

Comments

Content

BAB 1
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN RETARDASI MENTAL
1.1 TINJAUAN MEDIS
1.1.1 Pengertian
1. Retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO, MENKES
1990).
2. Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah
yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap
tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal (Carter CH, Toback C).
3. Retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah, yang
disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan gejalanya timbul pada masa
perkembangan (Crocker AC, 1983).
4. Retardasi mental adalah gangguan heterogen yang terdiri dari gangguan fungsi
intelektual di bawah rata-rata dan gangguan dalam ketrampilan adaptif yang
ditentukan sebelum orang berumur 16 tahun.
5. Retardasi mental dapat diartikan sebagai suatu keadaan perkembangan mental yang
terhenti atau tidak lengkap. Ini terutama terlihat selama masa perkembangan sehingga
mempengaruhi pada semua tingkat intelegensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa,
motorik dan sosial. Retardasi mental kadang disertai gangguan jiwa atau gangguan
fisik lain (http:///www.google.com).
6. Retardasi mental atau tuna mental adalah keadaan taraf perkembangan kecerdasan di
bawah normal sejak lahir atau masa anak-anak. Diperkirakan 1-3 % penduduk
Indonesia

menderita

kelainan

ini

(Republika

Online



http:///www.republika.co.id.htm).
Tingkat-tingkat retardasi mental dibagi menjadi:
1. Retardasi Mental Ringan
Nilai IQ pada Retardasi Mental Ringan 52-69. ketrampilan sosial dan komunikasinya
mungkin adekuat dalam tahun-tahun pra sekolah. Tetapi pada saan anak menjadi lebih
besar, defisit kognitif tertentu seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak
dan egosentrik mungkin membedakan dirinya dari anak lain seusianya. Biasanya
mengalami keterlambatan dalam mempelajari bahasa. Namun, masih dapat berbicara
untuk keperluan sehari-hari dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari serta terampil
dalam perkerjaan rumah tangga. Dan akan mengalami kesulitan dalam pelajaran
sekolah.
2. Retardasi Mental Sedang
Nilai IQ pada Retardasi Mental Sedang adalah 36-51. ketrampilan komunikasi
berkembang lebih lambat. Isolasi sosial dirinya mungkin dimulai pada usia sekolah
dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika dibandingkan dengan Retardasi Mental Ringan.
Biasanya lambat dalam perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa.
Ketrampilan merawat diri dan ketrampilan motoriknya pun terlambat. Penderita juga
memerlukan pengawasan seumur hidup dan program pendidikan khusus demi
1

mengembangkan potensi mereka yang terbatas agar memperoleh beberapa
ketrampilan dasar.
3. Retardasi Mental Berat
Nilai IQ pada Retardasi Mental Berat 20-35. bicara anak terbatas dan perkembangan
motoriknya buruk. Pada usia pra sekolah sudah nyata ada gangguan. Pada masa usia
sekolah kemampuan bahasanya berkembang. Kebanyakan dengan gangguan motorik
yang berat akibat kerusakan perkembangan pada susunan saraf pusat.
4. Retardasi Mental Sangat Berat
Nilai IQ Retardasi Mental Sangat Berat di bawah 10. ketrampilan komunikasi dan
motoriknya sangat terbatas. Pada masa dewasa dapat terjadi perkembangan bicara dan
mampu menolong diri sendiri secara sederhana. Tetapi juga masih membutuhkan
1.1.2

perawatan orang lain.
Etiologi
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari Retardasi Mental. Faktor-faktor yang
potensial sebagai penyebab Retardasi Mental:
1. Non organik
a. Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis.
b. Faktor sosiokultural.
c. Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik.
d. Penelantaran anak.
2. Organik
a. Faktor Pra-konsepsi
- Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit
-

neurocutaneous).
Kelainan kromosom.

b. Faktor Pre-natal
- Gangguan pertumbuhan otak trimester I
- Kelainan kromosom
- Infeksi intra uterin, misal HIV
- Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi)
- Disfungsi plasenta
- Kelainan konginetal dari otak
- Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
- Infeksi intra uterin, misal HIV
- Zat-zat teratogen (alkohol, kokain, logam-logam berat)
- Ibu DM, PKU
- Toksemia gravidarum
- Disfungsi plasenta
- Ibu malnutrisi
c. Faktor Peri-natal
- Sangat prematurAsfeksia neotorum
- Trauma lahir
- Meningitis
- Kelainan metabolik
d. Faktor Post Natal
- Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
- Neurotoksin
- CVA
- Anoksia, misalnya tenggelam
- Metabolik, misalnya gizi buruk, kelainan hormonal
- Infeksi, misalnya meningitis ensefalitis
2

metabolik,

kelainan

1.1.3

Fisiologis
Otak merupakan pusat dari keseluruhan tubuh Anda. Jika otak sehat, maka akan
mendorong kesehatan tubuh serta menunjang kesehatan mental. Sebaliknya, apabila otak
terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental juga bisa terganggu.
Bagian-bagian otak:
1. Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan
nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak
yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki
kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan
kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh
kualitas bagian ini. Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut
Lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang
menyerupai parit disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah:
Lobus Frontal, Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus Temporal.
a. Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar.
Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak,
kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas,
kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
b. Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan
seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
c. Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan
pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
d. Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan
visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap
objek yang ditangkap oleh retina mata. Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum
(otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan
belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian
bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan
belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam
kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan berpikir
rasional.
2. Cerebellum (Otak Kecil)
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung
leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya:
mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan
gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan
otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat
menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.Jika terjadi cedera pada otak kecil,
dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan
menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan
makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
3

Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian
dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang.
Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung,
mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting
dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena
itu,batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur “perasaan
teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya anda akan merasa tidak nyaman atau
terancam ketika orang yang tidak kita kenal terlalu dekat dengan kita.
Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian teratas
dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil. Otak tengah
berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran
pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.
b. Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan
menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol funsi
otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
c. Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama
dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau
tertidur.Pada anak dengan Retardasi mental terjadi kerrusakan otak karena faktor
tertentu sehingga otak tidak dapat berkembang secara normal. Hal tersebut
menyebabkan fungsi otak dan bagian-bagiannya tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
1.1.4

Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan
impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf
terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput
bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama
lain lewat sinaps. Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada
trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson,
dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah anak
lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya
struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui
sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan
sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan
dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian
otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan
sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat
menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. Sehingga akan
menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi-bayi
4

yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh
berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor,
neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang
merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel
saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain
growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without
guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir
semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil
pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel
Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem
saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau
sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas,
peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan
kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau
sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan
gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi
bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan
kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol
berlebihan atau obat seperti thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi
selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta
kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat,
kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan
mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak
besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman
menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar
yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping
depan otak besar yang berperan dalam proses memori). Penelitian pada monyet dengan
merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan
menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak
menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak
pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan
hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan
kognitif.

5

Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan
oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid,
asam lemak esensial, serta asam folat.
Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain
alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu
pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.

WOC
Prenatal
Perinatal
Pasca natal

Retardasi Mental
Ketidakmampuan kognitif
(IQ <70-75)
Berbicara

berbahasa

ketrampilan merawat

Gangguan pertumbuhan
dan perkembangan
Gangguan komunikasi
1.1.5

Kurang perawatan diri

Klasifikasi
Menurut nilai IQ-nya,maka intelegensi seseorang dapat digolongkan sebagai
berikut:
NILAI IQ
Sangat Superior
Superior
Diatas Rata-Rata
Rata-Rata
Di bawah rata-rata
Retardasi mental borderlinr
Retardasi mental ringan (mampu didik)
Retardasi mental sedang (mampu latih)
Retardasi mental berat
Retardasi mental sangat berat

6

130 / Lebih
120-129
110-119
90-110
80-89
70-79
52-69
36-51
20-35
Di bawah 20

Yang sisebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70,retardasi mental tipe
ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampuh latih, sedangkan
retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan
bimbingan seumur hidupnya.
Bila ditinjau dari gejalanya, Retardasi Mental dibagi menjadi (Melly
Budhiman):
1. Tipe Klinis
Pada tipe ini, Retardasi Mental mudah dideteksi sejak dini. Penyebabnya
adalah kelainan organik. Kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi
atau pun sosial rendah.

2. Tipe Sosial Budaya
Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah. Penampilannya seperti
anak normal, sehingga disebut Retardasi Enam Jam. Tipe ini kebanyakan
berasal dari golongan sosial ekonomi rendah. Anak tipe ini pada umumnya
mempunyai taraf IQ golongan Borderline dan Retardasi Mental Ringan.
1.1.6

1.1.7

1.1.8

Manifestasi klinis
1. Gangguan kognitif
2. Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa
3. Gagal melewati tahap perkembangan yang utama
4. Lingkar kepala diatas atau dibawah normal
5. Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
6. Kemungkinan tonus otot abnormal
7. Kemungkinan ciri-ciri dismorfik
8. Terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar
Pemeriksaan penunjang
1. Uji Laboratorium
- Uji intelegensi standar dan uji perkembangan
- Pengukuran fungsi adaptif
2. EEG (Elektro Esenflogram)
- Gejala kejang yang dicurigai
- Kesulitan mengerti bahasa yang berat
3. CT ata MRI
- Pembesaran kepala
- Dicurigai kelainan otak yang luas
- Kejang lokal
- Dicurigai adanya tumor intra kranial
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anak dengan retardasi mental adalah multidimensi dan sangat
individual. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua anak penanganan multidisiplin
merupakan jalan yang baik. Sebaiknya dibuat rancangan suatu strategi pendekatan bagi
setiap anak secara individual untuk mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal
mungkin. Untuk itu perlu melibatakn psikolog untuk menilai perkembangan mental anak
terutama kemampuan kognitifnya,dokter anak untuk memeriksa fisik anak,menganalisis
penyebab,dan mengobati penyakit atau kelainan yang mungkin ada. Juga kehadiran
7

pekerja social kadang-kadanng diperlukan untuk menilai situasi keluarganya. Atas dasar
itu maka buatlah strategi terapi. Seringkali melibatkan lebih banyak ahli lagi,misalnya
ahli saraf bila anka juga menderita epilepsi,palsiserebral,dll. Psikiater,bila anaknya
menunjukkan kelainan tingkah laku atau bila orang tuanya membutuhkan dukungan
terapi keluarga. Ahli rehabilitasi,bila diperlukan untuk merangsang perkembangan
motorik dan sensoriknya. Ahli terapi wicara,untuk memperbaiki gangguan bicaranya atau
untuk merangsang perkembangan bicarnya. Serta diperlukan buruh pendidikan luar biasa
untuk anak-anak yang retardasi mental ini.
Pada orang tuanya perlu diberi penerangan yang jelas mengenai keadaan anaknya,
dan apa yang dapat diharapkan dari terapi yang diberikan. kadang-kadang diperlukan
waktu yang lama untuk meyakinkan orang tua mengenai keadaan anaknya, maka perlu
konsultasi pula dengan psikolog dan psikiater. Disamping itu diperlukan kerja sama yang
baik antara guru dengan orang tuanya,agar tidak terjadi kesimpang siurandalam strategi
penanganan anak disekolah dan dirumah. Anggota keluarga lainnya juga harus diberi
pengertian. Disamping itu masyarakat perlu diberikan penerangan tenteng retardasi
mental,agar mereka dapat menerima anak
Sekolah khusus untuk anak retardasi mental ini adalah SLB-C.Di sekolah ini
diajarkan keterampilan-keterampilan dengan harapan mereka dapat mandiri dikemudian
hari. Diajarkan pula tentang baik buruknya suatu tindakan tertentu,sehingga mereka
diharapkan

tidak

melakukan

tindakan

yang

tidak

terpuji,seperti

mencuri,merampas,kejahatan seksual,dll.
Semua anak yang retardasi mental ini juga memerlukan perawatan seperti
pemeriksaan

kesehatan

yang

rutin,imunisasi,dan

monitoring

terhadap

tumbuh

kembangnya. Anak-anak ini sering juga disertai dengan kelainan fisik yang memerlukan
1.1.9

penanganan khusus.
Komplikasi
a. Sebral Palsi
b. Gangguan kejang
c. Gangguan kejiwaan
d. Gangguan konsentrasi/hiperaktif
e. Defisit komunikasi
f. Konstipasi (karena penurunan motilitas usus akibat obat-obatan, kurang
mengkonsumsi makanan berserat dan cairan)

1.1.10 Pencegahan
Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial
dapat mengakibatkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi. Konseling
perkawinan, pemeriksaan kehamilan yang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan, dan
bersaling pada tenaga kesehatan yang berwenang maka dapat membantu menurunkan
angka kejadian rfetardasi mental. Demikian pula dengan mengentaskan kemiskinan
dengan membuka lapangan kerja, memberikan pendidikan yang baik, memperbaiki
senitasi lingkungan, meningkatkan gizi keluarga, akan meningkatkan ketahanan terhadap
penyakit. Dengan adanya program BKB (Bina Keluarga dan Balita)yang merupakan
8

stimulasi mental dini dan bisa dikembangkan dan juga deteksi dini, maka dapat
mengoptimalkan perkembangan anak.
Diagnosis ini sangat penting, dengan melakukan skrining sedini mungkin,
terutama pada tahun pertama, maka dapat dilakukan intervensi yang dini pula. Misalnya
diagnosis dini dan terapi dini hipotiroid, dapat memperkecil kemungkinan retardasi
mnetal. Detaksi dan intervensi dini pada retardasi mental sangat membantu memperkecil
retardasi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Ana K, Budi. (1999). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Buku Kedokteeran
EGC.
Betz, Cecely L. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Doengoues, Marylin E. (2002). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Hamid, Achir Yani S. (1999). Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa pada Anak dan
Remaja. Jakarta: Widya Medica.
Harold I, dkk. (1997). Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed. 3. Jakarta: Media
Aesculapius.
Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Univesity Press.
Pdiatri. Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

9

Townsend, Mary C. (1998). Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. Jakarta:
EGC.
http://www.google.com
http://www.republika_online.co.id.htm

10

Sponsor Documents

Or use your account on DocShare.tips

Hide

Forgot your password?

Or register your new account on DocShare.tips

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Back to log-in

Close