of x

Shoreline

Published on 5 days ago | Categories: Documents | Downloads: 2 | Comments: 0
127 views

Comments

Content

This is an excerpt from the content
Johnson (1919) first used the term retrograding shore when he
distinguished it from a prograding shore (q.v.). He also used the
term retrograding cliff in the same way as Cotton's
(1922)“retrogradation—the cutting back of the shore in a line of
cliffs.” Wooldridge and Morgan (1937) used it more as the antithesis
of the way in which prograding shore line has been defined, but also
accepted its wider meaning. Semantically, retrograde is the
antonym of prograde, and furthermore, as gradation implies a close
connection between both processes, it is suggested that
retrograding shore line be restricted to the reverse movement of
progradation, thus, a retreating of the shore line in loose sediments
previously deposited by wave action. It follows that the erosion is
due primarily to the capabilities of local waves to transport the size
of grain present on shore, and this separates shore retrogradation
from other forms of coastal retreat due to mechanical abrasion
This is an excerpt from the content
Johnson (1919) first used the term retrograding shoreline when he
distinguished it from a prograding shoreline. As with progradation,
retrogradation of a shore in loose sediments previously deposited by
wave action is a function of time, energy, sedimentary supply,
organic growth, and—above all—sea level change. Time is needed
for equilibrium after any change in the other
factors. Energy (seeProgradation and Prograding Shoreline) increase
during storms may produce temporary retrogradation in an area of
net progradation or speed up net retrogradation. Organic growth on
dunes may only retard rather than halt retrogradation. Sedimentary
supply can be reduced in two ways by man: Dredging from the sea
floor may upset the sea floor/sea level equilibrium (see Sea Level
Changes) and cause coastal erosion; and where longshore drift is
important, any man-made structure that halts retrogradation or
promotes progradation in one part of the coa
Erosi pantai adalah proses mundurnya garis pantai dari kedudukan garis

pantai semula. Hal ini disebabkan daya tahan material dilampaui oleh
kekuatan yang ditimbulkan oleh pengaruh anus dan gelombang, tidak adanya
keseimbangan antara lain suplai sedimen yang datang ke bagian pantai yang
ditinjau dan kapasitas angkutan sedimen di bagian pantai tersebut.
Lokasi Pantai Cerocok Painan berada di sebelah Barat kota Painan.
Permasalahan di Pantai Cerocok Painan adalah erosi. Erosi pada pantai ini
menyebabkan kemunduran garis pantai mencapai beberapa meter dari garis
pantai semula, sehingga mengancam infrastruktur yang ada disepanjang garis
pantai. Sampai saat ini telah dilakukan penanggulangan terhadap mundurnya
garis pantai akibat erosi dengan membangun bangunan pantai berupa tembok

laut di sepanjang Pantai Cerocok Painan.
Tesis ini mencoba menganalisis penyebab terjadinya erosi di Pantai Cerocok
Painan dan memberikan solusi upaya pencegahannya agar pantai tidak
semakin mundur.
Melalui studi ini telah dikaji perubahan garis pantai akibat erosi dengan
menggunakan software komputer Genesis dengan mensimulasikan perubahan
garis pantai kondisi existing dan dengan adanya bangunan pengaman di
sepanjang pantai.
Dari hasil analisis, erosi terjadi secara alamiah, dengan adanya bangunan TPI
di pantai tersebut yang menyebabkan terhentinya aliran sedimen ke Pantai
Cerocok Painan sebelah utara dari TPI dan aliran sedimen yang dibawa dari
arah Selatan lebih besar.
Upaya pencegahan erosi penanggulangan secara terpadu lebih efektif dan
hasilnya lebih optimal dengan menggunakan krib dan revetmen. Dari
bangunan tersebut diupayakan akan didapat garis pantai baru yang tidak
tererosi/stabil.
Deskripsi Alternatif :
ABSTRACT:
Shore erosion is the process of a decrease in shoreline from the initial
shoreline position. This is due to the material resistant which is surpassed by
the force resulted by tide and wave effect, the absence of balance, among
others, supply of sediment coming to the part of the shore being studied and
the capacity of sediment transport in the shore part.
The location of Cerocok Painan Shore on the west of the city of Painan. The
problem at Cerocok Painan shore is erosion. Erosion on this shore causes the
decrease in shoreline reaching several meters from the initial shoreline, thus
threatening the infrastructure along the shoreline. Until now, handling
towards the decrease in shoreline due to erosion has been conducted by
constructing shore structure in the form of a sea wall along Cerocok Painan

Shore.
This thesis tries to analyse the cause of erosion of Cerocok Painan Shore and
provide solution of preventive effort so that the shore does not keep
decreasing.
Through this study, changes in shoreline due to erosion has been analysed by
using Genesis computer software by simulating the existing condition of
shoreline change and by the presence of safe guard construction along the
shore.
From the result of analysis, erosion took place naturally, with the presence of
TPI structure on the shore which causes sediment flow to Cerocok Painan
Shore on the northern part of the TPI to stop and sediment flow carried from
the south was greater.
The erosion preventive effort using integrated handling was more effective
and the result was more optimum by using Krib and revetment. From the
structure, it is expected that a new uneroded/stable shoreline is obtained.

ABSTRAK
Perubahan garis pantai merupakan proses yang paling dinamik
yang terjadi di wilayah pantai. Erosi pantai merupakan
masalah global dimana 70% pantai di seluruh dunia
mengalami pengurangan. Hampir semua pantai di Bali
berpotensi untuk mengalami erosi. Kabupaten Badung di Bali
memiliki banyak pantai yang terkenal sebagai area wisata.
Dari sekitar 64 km panjang pantai, tercatat sekitar 11,5 km
mengalami erosi pada tahun 1985 dan 12,1 km erosi pada
tahun 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perubahan garis pantai yang terjadi di bagian barat Kabupaten
Badung dari tahun 2001 sampai 2010 berdasarkan data
gelombang diprediksi menggunakan data angin bulanan dari
Stasiun meteorologi Ngurah Rai, Tuban, Badung, Bali. Simulasi
perubahan garis pantai mengukur maju (akresi) atau mundur
(erosi) garis pantai pada arah Timur-Barat. Garis pantai yang

digunakan sebagai garis pantai awal dalam model ini didapat
dari Badan Pusat Statistik (BPS) di Bali tanpa melihat tahun
pembuatan dan keberadaan tebing pantai yang curam.
Perubahan sudut orientasi garis pantai diperkirakan dengan
mempertimbangkan sudut gelombang datang menuju garis
pantai. Bali memiliki pola angin yang mirip dengan Samudera
Hindia. Distribusi angin dipengaruhi oleh angin muson barat
pada bulan November-April dan angin muson timur pada bulan
Mei-Oktober (Wrytki, 1961). Pada tahun 2001-2010, angin
dominan di wilayah ini berasal dari timur, tenggara, dan barat.
Secara geografis, pantai pesisir barat kabupaten Badung
dipengaruhi oleh angin yang berasal dari barat, barat daya,
dan selatan. Angin dominan yang bergerak mendekati pantai
pada tahun 2001-2010 berasal dari barat yang terjadi pada
muson barat. Kisaran kecepatan angin 1,7-4,7 m/s dengan
total frekuensi distribusi 28%. Simulasi menunjukkan bahwa
secara umum garis pantai mengalami akresi di utara dan erosi
di selatan. Dari sekitar 16000 m garis pantai penelitian, sekitar
7100 m pantai mengalami erosi. Sebaliknya, sekitar 8900 m
garis pantai mengalami akresi.

Profil garis pantai memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan gelombang yang
berpengaruh terhadap garis pantai . Perubahan pada garis ini terdiri dari dua
macam yaitu erosi dan sedimentasi. Gelombang yang dapat berpengaruh pada
garis pantai bangkit akibat adanya pengaruh dari angin, durasi angin bertiup dan
jarak tanpa rintangan saat angin bertiup (fetch). Gelombang yang datang dapat
menyebabkan berpindahnya sedimen pada garis pantai. Jika gelombang
menggerus sedimen pada garis pantai maka garis pantai akan mengalami erosi dan
sebaliknya, jika gelombang membawa sedimen ke garis pantai maka pada garis
pantai akan terjadi sedimentasi. Contohnya terdapat pada pantai Kelapa Rapat
Kabupaten Pesawaran. Pada pantai terdapat jalan raya yang jaraknya tidak jauh
dari garis pantai. Potensi erosi yang akan terjadi pada garis pantai dapat

menyebabkan terputusnya jalan diakibatkan tergerusnya sedimen pada garis
pantai. Akibat adanya potensi , maka dilakukan penelitian dengan menggunakan
Program GENESIS untuk dapat memperkirakan sejauh mana potensi erosi
berpegaruh terhadap terganggunya aksesbilitas jalan yang terdapat pada sekitar
Pantai Kelapa Rapat. Kata kunci : garis pantai, erosi, sedimentasi.

Abstract
Kenaikan muka laut menimbulkan dampak pada keberadaan sumberdaya alam,
maupun sumberdaya manusianya. Pemunduran garis pantai (shoreline retreat) dan
pengenangan pada wilayah-wilayah rentan merupakan dampak ke depannya.
Permasalahan wilayah pesisir lainnya, seperti penurunan muka tanah (land
subsidence), rob, gelombang pasang, serta banjir dapat memperburuk dampak
kenaikan muka laut, terutama bagi kesejahteraan penduduknya. Oleh karena itu,
dengan mengambil studi area di Teluk Jakarta, perlu dikembangkan model spasial
estimasi dampak kenaikan muka laut pada kerentanan kesehatan penduduk
wilayah pesisir. Model dikembangkan berdasarkan formulasi pemunduran garis
pantai (shoreline retrea model) yang telah dikembangkan oleh Sutrisno (2005)
dengan parameter permasalahan lingkungan dan sosial lainnya. Estimasi
dikembangkan dalam tiga skenario, yaitu rendah, sedang dan tinggi (low impact,
moderate dan high). Hasil yang diperoleh adalah model estimasi spasial
kerentanan wilayah pesisir dari sisi kesehatan penduduk terhadap kenaikan muka
laut selama minimal 20 tahun ke depan, sebagai input untuk model spasial
skenario kebijakan (rekomendasi) yang harus dilaksanakan sebagai usaha mitigasi
dan adaptasi

Sponsor Documents

Or use your account on DocShare.tips

Hide

Forgot your password?

Or register your new account on DocShare.tips

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Back to log-in

Close