ITS Undergraduate 13278 Chapter1

Published on March 2017 | Categories: Documents | Downloads: 23 | Comments: 0 | Views: 177
of 4
Download PDF   Embed   Report

Comments

Content


1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan sarana kesehatan, pelayanan
medis dan non medis. Kegiatan rumah sakit menghasilkan limbah
cair, padat dan gas yang berpotensi mengganggu lingkungan
sekitar. Gangguan tersebut dapat berupa pencemaran lingkungan,
pencemaran makanan dan minuman, serta penularan penyakit
yang mengakibatkan infeksi nosokomial (infeksi kepada sesama
pasien dan orang sehat baik petugas maupun pengunjung rumah
sakit) (Musadad, 2001). Salah satu limbah rumah sakit yang dapat
membahayakan kesehatan masyarakat adalah mikroorganisme
patogen. Pengelolaan limbah rumah sakit merupakan bagian dari
upaya penyehatan lingkungan yang bertujuan untuk melindungi
masyarakat (Giyatmi. 2003).
Teknik pengolahan limbah cair di rumah sakit dapat
dilakukan dengan cara teknik ozonisasi, metode lumpur aktif dan
teknik biofilter aerob-anaerob. Teknik biofilter aerob anaerob
yaitu teknik bioremediasi dengan proses biologi yang
memanfaatkan agen bakteri pereduksi senyawa organik
(Saefuddin, 2007). Tahap akhir pada teknik biofilter aerob
anaerob adalah klorinasi, yaitu proses pembubuhan senyawa klor
ke dalam bak pengolah limbah. Salah satu rumah sakit yang
menerapkan teknik biofilter aerob-anaerob adalah RSUD
Sidoarjo.
Klorinasi merupakan metode yang banyak digunakan,
karena klor efektif sebagai desinfektan dan harganya terjangkau
(Sururi dkk., 2008). Klorinasi bertujuan untuk mengurangi dan
membunuh mikroorganisme patogen yang ada di dalam air
limbah. Sumber klor yang biasa digunakan adalah kaporit
[Ca(OCl)
2
]. Kaporit dapat membunuh mikroorganisme patogen,
seperti Escherichia coli, Legionella, Pneumophilia,
2

Streptococcus, Facalis, Bacillus, Clostridium, Amoeba, Giardia,
Cryptosporidium, dan Pseudomonas (Anonim. 2008).
Kaporit ketika dilarutkan dalam air akan berubah menjadi
asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl
-
) yang memiliki
sifat desinfektan. HOCl dan ion OCl
-
bersifat sangat reaktif
terhadap berbagai komponen sel bakteri. Selanjutnya HOCl dan
ion OCl
-
disebut sebagai klor aktif. Klor mampu melakukan
reaksi hidrolisis dan deaminasi dengan berbagai komponen kimia
bakteri seperti peptidoglikan, lipid, dan protein yang dapat
menimbulkan kerusakan fisiologis dan mempengaruhi mekanisme
seluler (Berg, 1986). Klor aktif juga bereaksi kuat dengan lipid
dan peptidogikan pada membran sel. Hal ini dapat mempengaruhi
perbedaan konsentrasi yang sangat tinggi antara lingkungan
ekstrasel dan lingkungan intrasel, yang berpotensi mengganggu
tekanan osmotik di dalam sel dan dapat mengancam terjadinya
lisis/kehancuran sel. Baker (1926) dalam penelitiannya
menjelaskan bahwa klor membunuh bakteri dengan mengikat
protein untuk membentuk senyawa N-chloro (EPA
a
, 1999).
HOCl mampu melakukan degradasi oksidatif terhadap
sitokrom, protein besi-sulfur dan nukleotida yang berpotensi
menyebabkan kerusakan membran sel bakteri (Venkobachar,
Iyengar & Rao, 1977; Camper & McFeters, 1979; Haas &
Engelbrecht, 1980; Albrich, McCarthy & Hurst, 1981). Sehingga
proses respirasi, transportasi glukosa dan adenosin trifosfat
mengalami penurunan (Venkobachar, Iyengar & Rao, 1977;
Camper & McFeters, 1979; Haas & Engelbrecht, 1980). Klor juga
dapat mengganggu metabolisme (Wyss, 1961) dan proses sintesis
protein bakteri (Pereira et al., 1973), atau dengan memodifikasi
basa purin dan pirimidin yang mampu menyebabkan kecacatan
genetis (Patton et al., 1972; Hoyano et al., 1973; Haas &
Engelbrecht, 1980 dalam LeChevallier, 2004). Klor aktif dapat
melakukan inaktivasi kerja enzim (dengan merubah ikatan kimia
atau bahkan memutus ikatan kimia enzim), mengubah
permeabilitas sel, dan merusak sel DNA dan RNA. Selain itu, jika
air limbah mengandung amoniak dan bahan organik, asam
3

hipoklorit dan ion hipoklorit tersebut akan bereaksi dengan
senyawa tersebut membentuk kloramin dan komponen organik-
klor (EPA
b
, 1999).
Salah satu kelemahan desinfeksi menggunakan kaporit
adalah terbentuknya senyawa organohalogen seperti
trihalomethan (THMs) dari senyawa organik berhalogen (CHCl)
dalam air limbah dan klor. Trihalomentan merupakan senyawa
karsinogenik dan mutagenik (Sururi, dkk. 2008). Ada korelasi
positif antara konsentrasi kaporit yang diaplikasikan dengan
konsentrasi terbentuknya THMs. Semakin tinggi konsentrasi
kaporit, semakin tinggi pula konsenrsi THMs dilingkungan
tersebut. Untuk mengantisipasi pelepasan klor yang berlebih
tersebut diperlukan penentuan Breakpoint clorination (BPC) atau
titik retak klorinasi.
BPC adalah konsentrasi klor aktif yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi bahan organik, bahan organik (amoniak) dan bahan
lain yang dapat dioksidasi serta membunuh mikroorganisme jika
masih ada sisa klor aktif pada konsentrasi tersebut.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan hasil kerja praktek (Rosyidi, 2009) diketahui
bahwa aplikasi kaporit di IPAL RSUD Sidoarjo belum dapat
menurunkan kandungan koliform sesuai standar baku mutu
limbah cair rumah sakit berdasarkan surat keputusan menteri
lingkungan hidup nomor 58 tahun 1995. Limbah RSUD Sidoajo
berasal dari buangan medis (kamar mayat, kamar pasien, ruang
operasi, dan laboratorium) serta non-medis (dapur dan laundry).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui :
1. Berapakah efektivitas konsentrasi kaporit sebagai
desinfektan melalui uji residu klor dengan penentuan BPC.
2. Berapakah jumlah MPN koliform setelah dilakukan
desinfeksi hasil penentuan konsentrasi klor.



4

1.3. Batasan Masalah
1. Air limbah berasal dari rumah sakit Sidoarjo
2. Konsentrasi kaporit berdasarkan nilai BPC
3. Pengukuran baku mutu koliform dengan MPN

1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah:
1. Menentukan nilai BPC melalui uji residu konsentrasi klor aktif.
2. Mengukur MPN koliform setelah dilakukan desinfeksi dengan
klor aktif yang telah diuji BPC nya.

1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan pihak rumah
sakit khususnya RSUD Sidoarjo dalam mengoptimalkan IPAL
khususnya bak aerob-aerasi. Sehingga meningkatkan efisiensi
kebutuhan kaporit pada bak klorinasi dalam mengeliminasi
bakteri koliform tanpa meninggalkan residu klor aktif yang
berlebih.

Sponsor Documents

Or use your account on DocShare.tips

Hide

Forgot your password?

Or register your new account on DocShare.tips

Hide

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Back to log-in

Close